Menghadang Negara Gagal: Pertegas Ideologi Negara Melalui Pancasila

IMG 2987 ok Menghadang Negara Gagal: Pertegas Ideologi Negara Melalui Pancasila     Negara gagal adalah negara lemah yang tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di sekeliling warga negaranya. Liberalisasi radikal yang terjadi di seluruh kehidupan mulai menyingkirkan peran negara selaku pemegang kendali kekuasaan karena adanya penyerahan kekuasaan mutlak kepada pasar selaku pengendali kondisi politik dan sosial-ekonomi negara. Akibatnya, terjadinya peningkatan konflik sosial terus-menerus dan lemahnya negara akibat ketidakmampuan dan ketidakberdayaan negara dalam menjalankan fungsinya untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi masyarakat.

    Patut dicermati mengenai indikator dan penyebab terjadinya negara gagal. Berdasarkan hasil riset sebuah lembaga bernama “Fund for Peace” yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat yang fokus dalam mengeluarkan Indeks Negara Gagal. Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 178 negara di seluruh dunia, dan masuk dalam negara dalam bahaya. Keadaan ini patut diwaspadai terutama jika dikaitkan dengan eksistensi dan keberhasilan sebuah negara dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat sebagai khalayak negara. Senada dengan hal inilah Adhyaksa Dault melalui bukunya yang berjudul Menghadang Negara Gagal, Sebuah Ijtihad Politik mencoba untuk menjelaskan bentuk keprihatinan dan kegelisahan dirinya sebagai seorang pemuda dalam melihat konteks negara gagal dalam merenungkan kondisi dan keadaan negara Indonesia.

    Sebagai refleksi untuk memahami buku ini. Pada Rabu, 12 Juni 2013 lalu, civitas akademika dari Universitas Bhayangkara Bekasi mengadakan bedah buku Negara Gagal buah karya dari Adhyaksa Dault. Bedah buku ini menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Marbawi A. Katon selaku editor dari buku negara gagal dan DR. Hotma P. Sibuea sebagai pembanding buku yang merupakan dosen luar biasa hukum tata negara di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

    Bedah buku menghadang negara ini bertujuan untuk menghadirkan sikap kritisme dalam diri pemuda dan mahasiswa dalam melihat posisi dan kondisi Indonesia. “Indonesia sebagai sebuah negara telah kehilangan disharmonisasi sosial akibat adanya liberalisasi radikal di setiap sektor kehidupan. Akibatnya Indonesia mulai kehilangan disorientasi posisinya sebagai sebuah negara. Oleh karena itu Indonesia perlu mempertegas kembali posisi Pancasila sebagai ideologi negara”, ujar Marbawi A. Katon.

    Selain itu, Marbawi A. Katon juga menegaskan kembali di dalam buku Menghadang Negara Gagal setidaknya adanya tiga pilar penting dalam memahami sikap ideologi pancasila dalam mencegah terjadinya disfungsi negara. Pertama adalah mengenai integrasi nasional di dalam persatuan Indonesia yang dinamakan kebangsaan kita, kedua demokrasi kita sebagai aspek politik, dan ketiga mengenai keadilan sosial sebagai aspek ekonomi negara.

    Ketiga pilar tersebut secara umum terkandung di dalam esensi nilai-nilai gotong-royong. Bahkan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno menyatakan dalam slaah satu pidatonya pada tanggal 1 Juni. Apabila pancasila diperas maka inti dari perasan tersebut adalah Eka Sila yang bermakna Gotong-Royong. Namun, Marbawi A. Katon menyayangkan sudah mulai memudarnya sikap tersebut akibat digantikan oleh sikap individu dan rasional dalam melihat kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Baginya, keadaan ini bisa menjadi “duri dalam daging” yang menyebabkan hilangnya orientasi masyarakat yang turut serta dalam membentuk negara gagal.

    Mengamini hal tersebut DR. Hotma P. Sibuea, SH, MH mengatakan bahwa melalui buku Ijtihad Politik Menghadang Negara Gagal, dapat dipetakan mengenai liberalisasi radikal dalam berbagai konteks kehidupan justru menghilangkan idealisme dari negara Indonesia.

    DR. Hotma menyatakan bahwa, “Liberalisasi dalam bidang politik dengan adanya ongkos politik yang terlalu tinggi, diikuti oleh liberalisasi bidang ekonomi yang mengakibatkan terjadinya liberalisasi dalam bidang hukum. Telah mengakibatkan seakan-akan negara itu tidak hadir di dalam kehidupan masyarakat. Melainkan sudah bergeser kepada kepentingan-kepentingan kelompok liberal di dalam negara.  Akibatnya, negara sudah mulai kehilangan disfungsinya dalam kehidupan masyarakat dan hanya muncul secara normatif dalam format konsep belaka”.

(@ekobta) – 18/06/2013